23 January 2019

BIM GUIDE : BIM Execution Plan

BIM Execution Plan (BEP) adalah dokumen yang merupakan persetujuan tentang proses dan deliverable dokumen (dokumen yang diserahkan kepada client) sepanjang pengerjaan proyek. Sehingga tidak ada perselisihan yang nantinya akan mengganggu selama proyek dikerjakan. Karena selama ini yang saya alami, client terkadang meminta lebih dari yang sudah ditenderkan. Sedangkan perusahaan kadang menawarkan harga yang terendah agar menang dari pesaing - pesaingnya. Dengan adanya BEP ini diharapkan masing - masing orang yang berkaitan dengan proyek bisa :

  • Paham dengan jelas tentang stategi untuk mencapai tujuan dalam implementasi BIM
  • Tahu peran dan tanggung jawabnya selama pelaksanaan proyek
  • Merancang proses yang akan dikerjakannya selama pelaksanaan proyek
  • Mengetahui apa yang akan nanti akan dibutuhkan untuk kesuksesan proyek
BEP berisi beberapa hal antara lain :

  1. Garis besar bagaimana memenuhi persyaratan BIM client (Level of Development per phase)
  2. Kualifikasi dan pengalaman BIM dari BIM Manager dan BIM Coordinator masing - masing disiplin (Arsitektur, Struktur, MEP)
  3. Skedul proyek mengenai progres kerja BIM yang meliputi antara lain jadwal koordinasi (clash detection) misalnya setiap seminggu sekali. Kemudian juga jadwal progress BIM per submission apakah sudah memenuhi persyaratan BIM dari client atau tidak. Jadwal Revisi BEP.
  4. Jika di negara yang sudah ada Standar Nasional BIM bisa menambahkan dokumentasi deviasi antara Standar Nasional dengan proses BIM yang disyaratkan Client. Jadi BEP ini direvisi per submital seperti ditunjukkan pada point 3.
  5. Strategi penggunaan file shared server jika menggunakan BIM server untuk modeling. Jika tidak strategi bagaimana pertukaran data antar disiplin. Misalnya setiap seminggu 2 x diadakan penggabungan model dan/atau clash detection semua disiplin.
  6. Software yang akan digunakan untuk masing - masing disiplin. Agar bisa mengatur strategi pertukaran data antar disiplin. Karena multi disiplin BIM software (Revit, AECOSIM, Allplan) selama ini yang saya ketahui hanya untuk Arsitektur, Struktur dan MEP. Pekerjaan sipil misalnya akan menggunakan software lain. 
  7. File format untuk submission. Misalnya client menginginkan format PDF,DWG dan IFC
  8. Stategi bagaimana untuk update dan revisi file BIM yang sudah di kirim (submital document) ke client selama proses konstruksi. Karena ketika di lapangan ada beberapa kendala yang memungkinkan tidak bisa dilaksanakan sehingga harus ada perubahan design.
  9. Dan hal lain yang bisa kita sesuaikan. 
Karena di Indonesia belum ada Standar Nasional BIM jadi kita bisa menambah atau mengurangi sesuai kesepakatan dengan Client. Kita bisa mencari template BIM Execution Plan (BEP) di google kemudian mendesain ulang isinya. Karena disetiap negara pasti berbeda - beda kerumitannya untuk penerapan BIM.


No comments:

Post a Comment